Senin, 28 Februari 2011

NYEPI SAKA 1933


MAKNA NYEPI DAN PENGEMBANGAN KEBERSAMAAN UMAT

Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan � minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada �Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa� menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama �Nyepi� artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah �Catur berata penyepian�.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya Parisudha dimasa depan. Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.

Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi;

dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi;

pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan tapa, berata, yoga, samadhi. Tempat itu bisa dirumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria.

Kemampuan mengendalikan Panca Indria adalah dasar utama dalam mengendalikan Kayika, Wacika dan Manacika sehingga jika sudah terbiasa maka akan memudahkan pelaksanaan Tapa Yadnya.

Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan, pada Hari Nyepi seharusnya kita melakukan Upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing.

Jenis-jenis puasa antara lain : tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda.

Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kwalitas beragama. Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhkan hal-hal yang bersifat adharma. Hari Raya Nyepi dan hari-hari Raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tatwa atau falsafahnya. Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi Ritual (Upacara) sehingga segi-segi Tattwa dan Susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah melaksanakan ajaran Agama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja. Salah satu segi Tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan Trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi selogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari.

Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu 1. keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan), 2. keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan) dan 3. keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan).

Trihitakarana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain Trihitakarana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksana-kannya. Tekad yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat manusia. Trihitakarana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang diri atau sekelompok orang saja. Itu harus dilakukan bersama-sama oleh semua manusia, bahkan manusia beragama apapun.

Manusia yang pendakian spiritualnya cukup akan mencintai Tuhan (Hyang Widhi). Cinta kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas disebut �Bhakti�. Ruang lingkup ini misalnya : Bhakti kepada Tuhan, negara, bangsa, rakyat, dll. Tinjuan khusus tentang bhakti kepada Hyang Widhi, wujudnya adalah kasih sayang kepada semua ciptaan-Nya yaitu mahluk hidup : manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan; demikian pula kepada ciptaan-Nya yang lain misalnya alam semesta. Seseorang yang mengaku sebagai �Bhakta� (orang yang berbhakti) tidaklah tepat jika ia menunjukkan bhaktinya itu kepada Hyang Widhi hanya dalam bentuk berbagai ritual saja. Ia juga harus mewujudkan cinta dan kasih sayang kepada semua mahluk, khususnya kepada sesama manusia. Rasa kasih sayang kepada sesama manusia hendaknya benar-benar datang dari hati nurani yang bersih dan tulus tanpa keinginan mendapat balas jasa atau imbalan dalam bentuk apapun. Filsafat Tattwamasi merupakan panduan yang bagus kearah ini.

Masyarakat yang individu-individunya telah mampu melaksanakan ajaran Agama dengan baik akan mewujudkan keadaan yang disebut sebagai Satyam, Siwam, Sundaram, yakni masyarakat yang saling menyayangi sesamanya, kebersamaan yang harmonis dan dinamis, berkeimanan yang kuat dan sejahtera lahir-bathin. Manusia dalam upayanya mencapai kehidupan satyam, siwam, sundaram tidaklah dapat berdiri sendiri-sendiri. Ia memerlukan berbagai hubungan yang harmonis dengan manusia lain, atau jelasnya, manusia membutuhkan kelompok tertentu yang sehaluan dalam pemahaman keimanan, kepentingan politik, kepentingan ekonomi, kepentingan sosial, dan kepentingan budaya.

Prinsip-prinsip jalinan hubungan yang harmonis itu sebagaimana bunyi slogan : �Sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sampranaya, saling asah, saling asih, saling asuh�

Artinya : bersatu-padu menyusun kekuatan menghadapi ancaman/bahaya, memutuskan sesuatu secara musyawarah mufakat, saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling membantu. Slogan ini bersifat dinamis, dapat digunakan baik dalam lingkungan kecil seperti rumah tangga, maupun dalam lingkungan yang lebih besar seperti Paguyuban, Banjar, dan Desa, bahkan dalam lingkungan Nusantara dan Internasional. Untuk lingkungan yang lebih luas seperti Nusantara dan Internasional kepentingan yang disatukan biasanya menyangkut ideologi misalnya bidang keimanan/ Agama dan Politik. Azas-azas kebersamaan sebagai umat Hindu dapat dikembangkan seluas-luasnya karena akan bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan. Kebersamaan itu pula dapat sebagai benteng yang melindungi, mengayomi umat sedharma dari ancaman-ancaman pihak lain dalam bentuk proselitasi (mempengaruhi orang yang sudah memeluk Agama tertentu beralih ke Agama lain).

Selain itu azas kebersamaan sangat bermanfaat bagi umat sedharma untuk bergotong royong menegakkan dharma dan dalam pendakian spiritual individu, misalnya dalam memerangi Sadripu (enam jenis musuh manusia yang ada di diri masing-masing) yaitu : Kama (nafsu yang tak terkendali), Lobha (rakus), Kroda (kemarahan), Mada (kemabukan), Moha (angkuh) dan Matsarya (cemburu, dengki dan iri hati). Slogan �Sagilik-saguluk sabayantaka� hendaknya tidak dipandang secara sempit sebagai menghadapi musuh ekstern, tetapi lebih ditujukan kepada memerangi Sadripu ini. Mereka yang berhasil mengendalikan Sadripu disebut orang yang �Dama� artinya bijaksana. Kebijaksanaan adalah hal yang penting dalam menempuh kehidupan, karena kebijaksanaan dalam arti luas hakekatnya adalah kemampuan memilah dan menyadari Dharma dan Adharma.

Kebersamaan dalam bentuk paguyuban berguna sebagai wadah demokrasi karena konsep �Paras-paros sampranaya� dijalankan. Ini akan membentuk tatanan kehidupan yang moderat dimana terjadi brainsforming dalam memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa perjuangan dalam bentuk apapun hanya akan berhasil jika dilakukan dengan kesadaran kebersamaan yang hakiki diantara kelompok pejuang. Demikian pula hal yang patut dilakukan oleh umat Hindu dewasa ini, jalinan kebersamaan hendaknya makin diperluas mencapai tahap internasional agar dapat memberikan manfaat yang tinggi bagi kemajuan umat Hindu.

sumber: MediaHindu.net

BESAKIH TAMPLE

Pura Besakih DescriptionPura Besakih

In the car park at the entrance to the temple Balinese of all ages offer their services as guides. Usually they speak very little English and know only the main facts about the temple. If you do hire a guide the price should be agreed in advance (about 10,000 rupiahs).

The temple, laid out on terraces and built mainly of dark-colored lava stone, may strike visitors as unimpressive - unless they come at the time of the annual temple festival, in which tens of thousands of Hindus from all over the island and from farther afield take part. There are more colorful and more elaborately decorated temples on Bali, but to the Hindus none is so important as the Pura Besakih, the "Mother of All Temples"
.

In addition to its annual "birthday" festival (the odalan festival) the Pura Besakih is the scene of Bali's most important temple festival, the Eka Dasa Rudra, which is celebrated every hundred years.

The festival last took place in 1979. This was a departure from the usual timing, and for good reason. The festival was due to be celebrated in 1963, but the preparations were interrupted by the eruption in that year of Gunung Agung, previously thought to be extinct. Over 2500 people were killed and many villages in the surrounding area were destroyed. The Eka Dasa Rudra festival, therefore, was put off until

1979.

Location

The Pura Besakih (whose name is probably derived from the snake Basuki which features in Hindu mythology) lies in a luxuriant tropical landscape at the foot of Gunung Agung, which forms a magnificent backdrop, particularly in the clear morning light.

History

The Pura Besakih is thought to have been originally founded in the 8th century ad, possibly as a Buddhist shrine, since at that time Bali had not yet been converted to Hinduism. Tradition tells of a priest of Shiva named Sri Markhadeya who founded a temple on this spot. The main parts of the present temple were probably built in the 10th century by the local ruler Kesari Warmadewa.

Some parts of the temple are usually (particularly during preparations for the temple festival) closed to non-Hindus. A well signposted path, which visitors may not leave, runs through the temple precinct.

Temple precinct

Below the temple is a large car park, beyond which all motor traffic is prohibited. From here a wide avenue leads up to the temple, lined with shops selling religious articles and souvenirs. Then on the left is seen the first of a total of 15 family temples - a number which is likely to increase, for when a Balinese family rise to some consequence they like to have their own family or ancestral temple within the precincts of the Pura Besakih.

A broad flight of steps and a split gate (candi bentar) lead into the first of five temple precincts, separated from one another by lava walls of varying height. In the corners to left and right of the gate are bell-towers (kulkul). In the first precinct, in adjoining walled courtyards, are a number of secular buildings in which offerings are prepared before the great temple festival. Visitors who are fortunate enough to arrive a few days before a festival will be able to watch these preparations.

Standing at an angle to the wall is a building in which the priests prepare holy water and distribute it to worshippers. Then a further flight of steps and a covered gate (padur raksa) lead into the second temple precinct.

In the third precinct, to the left, are four merus with varying numbers of tiers (tumpangs); the tallest has seven.

Beyond this, outside the actual precinct, is a small temple dedicated to the smiths' guild. The fact that the smiths had their own temple in the Pura Besakih indicates the predominant importance of this trade on Bali.

The most important and holiest precinct of the Pura Besakih contains relatively few buildings. At the near end are two merus, an eleven-tiered one on the right and a three-tiered one on the left, and beyond these are other sacred buildings. From the terrace there is a fine view of the whole temple area.

Various princely families or their descendants are responsible for the upkeep of the shrines in the main part of the complex, the Pura Panataran Agung: the Rajas of Bangli for the shrine of Vishnu, the Rajas of Karangasem (Amlapura) for that of Brahma, the Rajas of Klungkung for that of Shiva.

There are other shrines outside the temple precincts. The Pura Dangin Kreteg is reached on a path which goes off to the right of the Pura Penataran Agung, and above it, to the left, is the Pura Batu Madeg.

Nyepi


Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia

  1. Pendahuluan.
    1. Pengertian
      Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kedasa (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra).
    2. Hakekat.
      Penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).
  2. Latar belakang sejarah.
    1. Penobatan Raja Kaniskha I.
      Tahun baru çaka mulai diresmikan pada penobatan raja Kaniskha dan dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi.
    2. Tahun çaka di Indonesia.
      Pada zaman dahulu, berdasarkan berbagai daftar prasasti hanya dikenal tahun çaka saja. Menurut Negarakertagama, pada zaman Majapahit pergantian tahun çaka (bulan Caitra ke Waisaka) dirayakan secara besar-besaran.
  3. Rangkaian hari raya Nyepi.
    1. Melasti.
      Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Bagi pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.
    2. Tawur.
      Upacara tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala maupun niskala. Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya Nyepi.
      Catatan :
      Ketentuan upakara atau sesajen melasti dan tawur di atas melengkapi ketetapan- ketetapan pelaksanaan Nyepi terdahulu, yang disesuaikan dengan desa, kala, patra, (daerah/ tempat, waktu, dan keadaan).
    3. Hari raya Nyepi.
      Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi maka umat Hindu wajib melaksanakan catur brata nyepi.
    4. Ngembak Geni.
      Hari Ngembak Geni jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi.
      Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma santi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
  4. Brata hari raya Nyepi.
    Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi tersebut di atas, maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan catur brata Nyepi, sebagai berikut :
    1. Amati Geni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
    2. Amati karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
    3. Amati lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri.
    4. Amati lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.
Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari "Prabrata" fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24 jam).
  1. Dharma Santi.
    1. Lingkungan keluarga.
      Dharma Santi dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam keluarga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan terbinanya kerukunan dan perdamaian. Pelaksanaan dharma santi ini dapat dilaksanakan pada hari Ngembak Geni dan beberapa hari sesudah itu.
    2. Masyarakat.
      Dharma santi dengan lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan: Dharma wacana, dharma gita (lagu- lagu keagamaan/ kidung, kekawin, pembacaan sloka, dharma tula (diskusi) persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan "punia" kepada yang patut menerimanya,