Kamis, 24 Maret 2011

Pura Kiduling Kreteg Memuja Batara Brahma

Memuja Batara Brahma
Idam varco agnina dattam, agan
bhargo yasah ojo vayo balam.
(Atharvaveda XIX.37.2).
 
Maksudnya:
Agni telah memberikan kami kemuliaan ini, kecemerlangan ini, kemasyuran, tenaga yang kuat, semangat, usia panjang dan ketangguhan lahir batin. 
PURA Kiduling Kreteg sebagai salah satu pura di kompleks Pura Besakih berada di arah selatan dari Pura Penataran Agung Besakih. Kiduling Kreteg artinya di sebelah selatan jembatan. Memang pura ini terletak di sebelah selatan jembatan dari Pura Penataran Agung Besakih.  
Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat dari seluruh kompleks Pura Besakih. Pura Kiduling Kreteg ini tergolong Pura Catur Dala sebagai media memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Dewa Iswara adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya sinar yang dari atas menyinari alam semesta di bawah. Sedangkan Dewa Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya api yang selalu berkobar dari bawah menuju ke atas. Ini kenyataan alam ciptaan Tuhan yang memberi kekuatan daya cipta kepada umat manusia untuk terus-menerus berkreasi.  
Hidup yang baik adalah hidup yang terus berkreasi melakukan inovasi yang bergisi mengembangkan strategi membangun tradisi mengaplikasikan isi kitab suci. Salah satu kekuatan Citta disebut Aiswarya. Kekuatan inilah yang senantiasa mendorong manusia untuk terus-menerus berusaha meningkatkan diri menuju yang lebih baik dengan cara-cara yang benar dan suci. Aiswarya ini mendorong manusia untuk kreatif melakukan sesuatu yang baik berdasarkan kebenaran dan kesucian.  
Kalau kekuatan Aiswarya ini dapat mengatasi kekuatan Klesa, maka manusia itu akan senantiasa dapat menunjukkan perilaku Dharma. Klesa itu adalah unsur yang menghalangi dorongan untuk melakukan Dharma. Klesa itu yang mengotori diri manusia karena menghalangi Atman memancarkan sinar sucinya. Klesa yang kuat menyebabkan manusia dinamika hidupnya menuju papa neraka.  
Menyelenggarakan kehidupan yang baik, benar dan suci membutuhkan kreasi yang terus-menerus sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk menguatkan daya kreativitas diri itu di samping dengan kekuatan daya nalar sendiri juga dibutuhkan kekuatan spiritual melalui pemujaan Tuhan. Dalam hal inilah Tuhan dipuja sebagai Batara Brahma untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian dan keharmonisan. Karena kehidupan yang bahagia lahir batin akan terwujud kalau dasarnya kebenaran, kesucian dan keharmonisan atau Satyam, Siwam dan Sundharam. 
Salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan sosial. Di samping itu, memuja Tuhan sebagai Dewa Brahma untuk memelihara semangat hidup agar tetap dapat hidup di jalan Dharma. 
Pemujaan Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu disimbolkan dalam Pelinggih Meru Tumpang Sebelas. Meru ini terletak paling sudut di timur laut dari areal Pura Kiduling Kreteg. Pelinggih Meru Tumpang Sebelas ini masyarakat umum menyatakan sebagai stana Ratu Cili. Sakti Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati.  
Zaman dahulu di Bali ada tradisi pantang menyebut nama yang dihormati, apalagi yang dipuja seperti Dewi Saraswati. Karena itu namanya disebut Ratu Cili. Kata Cili dalam bahasa Bali simbol kecantikan atau keindahan wanita. Sebutan Ratu Cili di Meru Tumpang Sebelas di Pura Kiduling Kreteg untuk menyebutkan pemujaan Dewi Saraswati, Sakti Dewa Brahma.  
Memasuki areal utama mandala atau jeroan dari Pura Kiduling Kreteg ini kita akan menjumpai palinggih yang disebut Bale Pegat. Di Bale Pegat ini. Ada dua balai atau sejenis dipan beratap satu. Fungsi pelinggih yang disebut Bale Pegat ini adalah untuk nyiratan atau memercikan Tirtha Pengelukatan.  
Fungsi Tirtha ini adalah untuk melepaskan berbagai kekotoran rohani yang mungkin masih melekat pada diri umat yang akan memuja di Pura Kiduling Kreteg itu. Kekotoran itu adalah kemelekatan jiwa pada nafsu keduniawian yang disebut Panca Klesa. Adanya Pelinggih Bale Pegat itu sebagai visualisasi simbolistis untuk menanamkan nilai spiritual kepada umat agar meninggalkan kelekatan pada nafsu duniawi sebagai syarat utama menuju jalan spiritual membangun landasan hidup yang baik.  
Di sebelah kiri dari Meru Tumpang Sebelas stana Batara Brahma ada pelinggih yang disebut Bale Pesamuan Agung. Di Bale Pesamuan Agung inilah dilukiskan kegiatan Ida Batara baik saat tedun, nyejer maupun masineb. Di Pelinggih Bale Pesamuan Agung ini Ida Batara dipuja dengan konsep Wahya atau secara lahiriah, sedangkan di Meru Tumpang Sebelas Ida Batara dipuja secara Dyatmika atau batiniah.  
Dalam RgVeda ada dinyatakan bahwa Tuhan hadir memenuhi alam semesta ini hanya seperempatnya. Sebagian besar Tuhan berada di luar alam semesta ini. Artinya Tuhan berada memenuhi alam ini dan juga berada di luar alam semesta ini. Karena itu dalam Kidung Om Sembah yang diambil dari Kekawin Arjuna Wiwaha ada dinyatakan: ''wahyadyatmika sembah ingulunta tan hana waneh''. Maksudnya: lahir batin sembah hamba hanya kepada-Mu ya Tuhan tiada yang lain.  
Para Dewa manifestasi Tuhan dilukiskan oleh umat dalam upacara yadnya bagaikan raja dengan cara petinggi kerajaan. Di Pelinggih Pesamuan Agung inilah dilukiskan para Dewa berkumpul bagaikan raja dengan petinggi kerajaan rapat menentukan anugerah kepada rakyat berupa keamanan dan kesejahteraan.  
Di Pelinggih Pesamuan Agung ini dilukiskan Tuhan mendunia atau merakyat memberikan anugerah kepada umatnya yang melakukan Dharma. Bale Pesamuan ini ada di Pura-pura besar pada umumnya. Yang cukup menarik di leretan pelinggih di selatan ada dua Meru berjejer. Ada yang Tumpang Lima dan Meru Tumpang Tiga. Meru Tumpang Lima sebagai pelinggih Ida Ratu Bagus Seha dan Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Ratu Sihi.  
Istilah Seha dan Sihi sepertinya melukiskan keseimbangan antara Purusa dan Predana. Ini artinya idealisme pemujaan pada Dewa Brahma akan terwujud kalau dilakukan secara Sekala dan Niskala atau lahir batin. Di timur Pelinggih Ida Ratu Bagus Seha terdapat Meru Tumpang Sebelas merupakan Meru terbesar di Pura Kiduling Kreteg. Meru ini stana Ida Batara Agung Sakti sebagai manifestasi dari Batara Brahma.  
Pengertian Sakti menurut Wehaspati Tattwa adalah banyak ilmu dan banyak kerja. Maksudnya tujuan memuja Batara Brahma agar diwujudkan dengan ilmu dan kerja (Jnyana, Karma,Dan toede bona)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar